![]() |
| Sumber: akurat.co |
Proses mengidentifikasi
korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610
berjalan relatif lancar.
Identifikasi
korban ini ditangani oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri.
Proses identifikasi tersebut melalui berbagai macam tahapan. Salah satunya
mengumpulkan data antemortem yang didapatkan dari keluarga korban.
"Berupa
sidik jari, data gigi, data dna data medis, sama data properti barang-barang
kepemilikan," jelas Kepala Bidang DVI Mabes Polri Kombes drg. Lisda Cancer
saat ditemui di Rumah Sakit (RS) Polri, Minggu, (4/11).
Antemortem
sendiri merupakan pengumpulan riwayat dan data jenazah korban kecelakaan atau
bencana sebelum meninggal dunia.
Kegunaan
data Antemortem tersebut untuk mendapatkan hasil yang akurat, setelah dilakukan
pencocokan dengan hasil identifikasi setelah meninggal.
"Setelah
ada antemortem, terus disesuaikan dengan postmortem yang sudah dilakukan,"
katanya
"Kita
periksa data para korban dari sidik jarinya, data DNA-nya, data giginya, data
medisnya, data-data kepemilikan yang dia pakai pada saat kejadian, setelah itu
dicocokin kalau data antamortem cocok dengan data postmortem nanti akan sesuai
dan terindentifikasi jenazahnya," tambahnya.
Lisda
mengatakan proses identifikasi korban sebenarnya mudah untuk diketahui hanya
dengan sidik jari. Namun korban yang ditemukan keadaannya tidak maka itu
menjadi sulit.
"Kalau
korban yang ditemukan ada tangannya langsung bisa ketahuan siapa korbannya. Tapi
kan ini ada banyak yang tidak utuh, oleh sebab itu pencocokan dna menjadi yang
paling krusial untuk identifikasi," tukasnya.
Data DNA yang dilakukan dalam uji forensik identifikasi korban adalah berupa darah, air
liur, jaringan lunak, tulang, sel kulit mati, akar rambut dan sperma pada
korban.
Sumber:
akurat.co

Tidak ada komentar:
Posting Komentar