![]() |
| Sumber: akurat.co |
Meski sudah dirilisnya angka pertumbuhan ekonomi Indonesia
yang dianggap di atas rata-rata ekspektasi namun, tidak cukup kuat untuk mengangkat
Rupiah. Bahkan berbalik melemahnya laju USD setelah penguatan selama beberapa
hari sebelumnya juga tidak dapat respon positif.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis PDB kuartal III-2018 naik
5,17%, di atas ekspektasi sejumlah pengamat yang memperkirakan di angka 5,14%.
Pertumbuhan ekonomi itu dinilai tertinggi secara tahunan sejak 2014 atau di
masa kepemimpinan Presiden RI Joko Widodo.
Konsumsi pemerintah pada masa kuartal III-2018 cukup
memberikan kontribusi terlihat bagi pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut
yang tumbuh 5,17%. Meski dinilai di atas ekspektasi namun, angka tersebut jauh
lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang mencapai 5,27%.
Oleh karena itu, pelaku pasar memanfaatkan penguatan Rupiahsebelumnya untuk kembali melemah.
" Di perkirakan Rupiah akan bergerak di kisaran
14.983-14.969," sebut Analis CSA Research Institute Reza Priyambada di
Jakarta, Selasa (6/11).
Pelemahan Rupiah juga diikuti dengan pelemahan USD yang
mengakhiri reli penguatan sebelumnya. Laju USD melemah seiring dengan aksi
lepas USD oleh investor mennuju adanya pemilu tengah semester (midterm
election) AS. Dengan kondisi tersebut pergerakan Rupiah seharusnya masih ada
kesempatan untuk menguat dengan memanfaatkan pelemahan USD.
" Tetap mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen yang
dapat membuat Rupiah kembali melemah," pungkasnya.
Sumber: akurat.co

Tidak ada komentar:
Posting Komentar